FARMAKOFOR
Dalam suatu bidang farmasis, tentu saja tidak asing
mendengar istilah obat. Obat-obatan seiring dengan perkembangan zaman perlu
dikembangkan karena semakin banyak model penyakit-penyakit baru yang timbulnya.
Sehingga perlu dilakukan modifikasi atau pengembangan dari obat yang lama.
Salah satu metode yang dapat digunakan dan yang paling umum diketahui adalah
melihat model farmakofor. Tujuan melihat farmakofor adalah adanya interaksi
penting antara protein dan ligan.
Farmakofor adalah susunan tiga dimensi dari atom dalam molekul obat yang
memungkinkan untuk berikatan dengan reseptor yang diinginkannya dan
bertanggung jawab dengan respon biologis karena terikat dengan
reseptor yang dikehendakinya.
“Jika ada senyawa-senyawa yang memiliki
farmakofor yang sama, maka efek yang dihasilkan juga sama”.
![]() |
Two dimensional of pharmacofors

Three dimensional pharmacofors

PENICILIN
Reseptor obat adalah suatu makromolekul jaringan sel hidup, mengandung
gugus fungsional atau atom-atom terorganisasi, reaktif secara kimia dan
bersifat spesifik, dapat berinteraksi secara reversibel dengan molekul obat
yang mengandung gugus fungsional spesifik, menghasilkan respons biologis yang
spesifik pula.
Ada
beberapa ikatan yang mendasari identifikasi farmakofor, yaitu :
a. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen terbentuk bila ada dua atom saling menggunakan sepasang
elektron secara bersama-sama. Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang paling
kuat dengan rata-rata kekuatan ikatan 1000 kkal/mol. Dengan kekuatan ikatan
yang tinggi ini, pada suhu normal ikatan bersifat ireversibel dan hanya dapat
pecah bila ada pengaruh katalisator enzim tertentu. Interaksi obat-katalisator
melalui ikatan kovalen menghasilkan kompleks yang cukup stabil dan sifat ini
dapat digunakan untuk tujuan pengobatan tertentu.
b. Ikatan ion
Ikatan ion adalah ikatan yag dihasilkan oleh daya tarik menarik
elektrostatik antara ion-ion yang muatannya berlawanan. Kekuatan tarik-menarik
akan makin berkurang bila jarak antar ion makin jauh dan pengurangan tersebut
berbanding terbalik dengan jaraknya.
c. Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen adalah suatu ikatan antara atom H yang mempunyai muatan
positif parsial dengan atom lain yang bersifat elektronegatif dan mempunyai
sepasang elektron bebas dengan oktet lengkap seperti O, N, F. Atom yang
bermuatan positif parsial dapat berinteraksi dengan atom negatif parsial dari
molekul atau atom lain yang berbeda ikatan kovalennya dalam satu molekul.
Contoh : H2O
d. Ikatan Van Der Waal’s
Ikatan van der waal’s merupakan kekuatan tarik-menarik antar molekul atau
atom yang tidak bermuatan dan letaknya berdekatan atau jaraknya ± 4-6 Å. Ikatan
ini terjadi karena sifat kepolarisasian molekul atau atom. Meskipun secara
individu lemah tetapi hasil penjumlahan ikatan van del waal’s merupakan faktor
pengikat yang cukup bermakna terutama untuk senyawa-senyawa yang mempunyai
berat molekul tinggi. Ikatan van der waal’s terlibat pada interaksi cincin
benzen dengan daerah bidang datar reseptor dan pada interaksi rantai
hidrokarbon dengan makromolekul protein atau reseptor.
Selain
itu studi Farmakofor bisa digunakan untuk
virtual screening dan molecular docking senyawa piperazin terhadap
reseptor Kemokine CCR5 sebagai agen anti-kanker prostat. Dimana derivatif
senyawa piperazine dimodelkan secara
3D terhadap reseptor CCR5. Penelitian ini menggunakan metode penelusuran
farmakofor, virtual screening dan molecular docking pada target reseptor
kemokin CCR5 sebagai agen anti-kanker prostat. Penentuan fitur farmakofor dan docking molekul didapatkan berdasarkan
Struktur reseptor CCR5 dan
ligan aktif yang diperoleh dari Protein Data Bank (www.pdb.org), dengan kode
(PDB ID: 4MBS) dan virtual screening terhadap 170.000 senyawa natural product yang didapatkan dari situs (http://zinc.docking.org)
lalu ketiganya dimodelkan menggunakan perangkat lunak MOE 2009.10
Bukti-bukti
terbaru menunjukkan peran ganda reseptor kemokin CCR5 dalam mempromosikan
pertumbuhan beberapa jenis kanker. Mekanisme promosi tersebut diyakini
melibatkan peradangan kronis pada lingkungan mikro yang meningkatkan
pertumbuhan tumor. Yakni dengan memblok fungsi reseptor CCR5 dengan senyawa
antagonis sehingga dapat menghasilkan pengobatan baru pada penyakit kanker
seperti kanker prostat. Dengan adanya
penambahan atom nitrogen pada cincin piperazine
dapat memungkinkan interaksi ligan dan reseptor dengan memperkuat situs
pengikatan antara ligan dan reseptor, namun hasil ini masih perlu untuk
dikuatkan dengan penelitian tahap lanjut menggunakan kombinasi analisis
farmakofor dan studi docking.
A. Penelusuran Farmakofor dan virtual screening
Penelusuran farmakofor
Langkah pada
pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan
sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama
(daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis
konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan
Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
Virtual
screening
Langkah yang umum digunakan pada virtual screening, adalah dengan mendownload
terlebih dahulu beberapa ribu senyawa dari zinc12 databes.
Senyawa-senyawa yang telah didownload kemudian disimpan sebagai database dengan
format *mol2, lalu dijalankan metode Pharmacophore> Search dengan
menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10. Senyawa hits
selanjutnya dilanjutkan pada studi Docking
molekul.
Penelusuran Farmakofor
Alasan lain
mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah
adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak
target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde
dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi.
Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan
pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya
cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Virtual Screening
Terdapat beragam metode skrining virtual berbasis
ligan. Berdasarkan tingkat kecanggihan, biaya komputasi utama, semua tergantung
pada jenis informasi struktural yang digunakan. Pada semua kasus, umumnya
diperoleh pengayaan signifikan pada pilihan acak dari molekul dalam database.
Setelah prosedur pencarian, molekul dengan skor tertinggi dapat dipriotitaskan
untuk pengujian eksperimental. Skrining
virtual berbasis struktur dari molekul 3D telah berhasil diterapkan untuk
menemukan hit baru dalam desain berbasis struktur.
Dengan menggunakan struktur
protein dari 4MBS, selanjutnya dibuat query
farmakofor dalam program MOE. Tujuan
dari penyusunan query farmakofor
adalah untuk menjelaskan struktur 3D senyawa turunan piperazine yang penting untuk pengikatan dengan
reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur
struktur dari reseptor CCR5 yang penting untuk aktivitas biologis dengan
melihat residu asam amino yang berperan pada pengikatan. Adapun
query farmakofor yang berperan dalam
interaksi ligan-reseptor memiliki fitur gugus amin tersier (F1:Acc), gugus
donor dan akseptor proton (F2:don&Acc), gugus aromatik (F3:aro), gugus
amida (F4:Acc) dan gugus hidrofobik (F5:Hyd.
![]() |
Gambar 1. Query Farmakofor
![]() |
Gambar 2. jarak fitur farmakofor
DAFTAR PUSTAKA
Abraham
DJ, Burger’s Medicinal Chemistry and Drug Discovery. 6th ed. Volume
1.Willey Interscience: New York. 2003. h: 289
Arnatt,
Christopher K. et al. Design, syntheses, and characterization of
pharmacophore based chemokine receptor CCR5 antagonists as anti prostate cancer
agents. 2013: h. 647-658, 2014. h: 2319-2323
Nursalam H.,Nur
S,D., Fuada H. 2013. Studi
Farmakofor, Virtual Screening dan Molecular Docking Senyawa Turunan Piperazine terhadap Reseptor Kemokine
CCR5 Sebagai Agen Anti-Kanker Prostat. Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Yang.,
P., Liu H.-C., Chen Y.-D., Yuan H.-L., Sun S.-L., Gao Y.-P., Yang P., Zhang L.,
Lu T., and Lu S. 2011. Combined Pharmacophore Modeling, Docking, and 3DQSAR
Studies of PLK1 Inhibitors, Int. J. Mol. Sci., 12,
8713-8739.
Pertanyaan
:
1. Apa perbedaan dari 4 ikatan yang mendasari identifikasi farmakofor tersebut
?
2. Apakah RAPID merupakan metode yang paling baik untuk pengembangan obat?
3. Apa saja langkah dalam
pengembangan model farmakofor ?
4. Mengapa pendekatan
farmakofor merupakan metode yang paling sering digunakan dalam desain obat yang
baru ?



Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
Selain itu, perbedaannya adalah
1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4
Wahhh. Terimakasih hefiza
HapusHai ovi.
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusAssalamualaikum. Terima kasih ovi, saya akan bantu jawab Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
BalasHapusAlasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusTerimakasih atas pemaparannya 😊
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
hay ovi saya akan mencoba menjawab soal nomor 3. langkah dalam mengembangkan farmakopor yaitu
BalasHapus1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak
Terimakasih atas pemaparannya 😊
Hapushay ovi saya akan mencoba menjawab soal nomor 3. langkah dalam mengembangkan farmakopor yaitu
BalasHapus1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusPemaparannya sangat baik sekali ovi. Disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
BalasHapusLangkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusPemaparannya sangat baik sekali ovi. Disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
BalasHapusLangkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusMateri ini sangat menarik sekali. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 4 dimana alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
BalasHapusTerimakasih atas pemaparannya 😊
HapusAssalamualaikum hayy Ovi saya coba bantu jawab dan menambahkan pertanyaan nomor 2 yaaa
BalasHapusFarmakofor termasuk dalam kategori baik dalam pengembangan obat hal ini di karenakan farmakofor atau pharmacophore adalah konfigurasi spasial fitur penting yang memugkinkan molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target tertentu. Dengan tidak adanya struktur reseptor dikenal, farmakofor dapat diidentifikasi dari suatu sel ligan yang telah diamati untuk berinteraksi dengan reseptor sasaran. Sebuah farmakofor didefinisikan sebagai susuanan 3D fitur yang sangat penting untuk molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target dalam situs pengikatan tertentu.
Selain itu juga terdapat metode lain untuk mengembangkan suatu obat yaitu dengan bantuan komputer (Computer assited Drug Design = CADD)' terutama berhubungan dengan parameter kimia fisika yang terlibat dalam aktivitas obat,hubungan kuantitatif struktur-aktivitas dan model kimia kuantum atau perhitungan orbit molekul
Program komputer untuk rancangan obat rasional antara lain :
BIOCES : Biochemical Expert System, untuk model protein, rekayasa protein dan Kimia Medisinal2) CoMFA : Comparative Moleculer Field Analysis (SYBYL).3) EMIL : Example Mediated Innovation for Lead Evolution, untuk mencari evolusi atau rancangan analog.4) MMMS : untuk model molekul, rancangan obat dan perhitungan kimia kuantum.5) GREEN : untuk studi struktur reseptor6) RECEPT : untuk rasional superkomposisi molekul dan mapping reseptor7) MMS-X : untuk rancangan obat, mapping reseptor dan analisis konformasi
Program komputer untuk menghubungkan struktur molekul dengan aktivitas biologis antara lain :
ALS : Adaptive Least Square 2) LDA : Linear Discriminant Analysis3) SIMCA :Statistical Isolinear Multiple Compound Analysis4) LLM ;Linear Learning Machine5) SAS : Statitistical Analysis System6) HANSCH : metode Hansch,regresi linear.7) QSAR : analisis regresi dan de novo
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusMateri ini sangat menarik sekali. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 4 dimana alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
BalasHapusTerimakasih atas pemaparannya 😊
HapusAssalamualaikum ovi. Pemaparan materinya baik sekali
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusPemaparan materinya baik sekali
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.
Terimakasih atas pemaparannya 😊
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Terimakasih atas pemaparannya
HapusAssalamualaikum ovi.
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
Selain itu, perbedaannya adalah
1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4
Terimakasih atas jawabannya. Sangat membantu 😊
HapusAssalamualaikum. Pemaparan materinya baik sekali
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
Terimakasih atas jawabannya. Sangat membantu 😊
HapusAssalamualaikum ovi. Pemaparannya baik sekali
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
Selain itu, perbedaannya adalah
1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4
Terimakasih atas jawabannya. Sangat membantu 😊
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
Selain itu, perbedaannya adalah
1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4
Hai tari. Wahh. Terima kasih atas jawabannya. Sangat bermanfaat 😂
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
Selain itu, perbedaannya adalah
1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4
Hai kak hilda. Wahhh 😍 terimakasih atas jawabannya. Sangat bermanfaat sekali
HapusAssalamualaikum hayy Ovi saya coba bantu jawab dan menambahkan pertanyaan nomor 2 yaaa
BalasHapusFarmakofor termasuk dalam kategori baik dalam pengembangan obat hal ini di karenakan farmakofor atau pharmacophore adalah konfigurasi spasial fitur penting yang memugkinkan molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target tertentu. Dengan tidak adanya struktur reseptor dikenal, farmakofor dapat diidentifikasi dari suatu sel ligan yang telah diamati untuk berinteraksi dengan reseptor sasaran. Sebuah farmakofor didefinisikan sebagai susuanan 3D fitur yang sangat penting untuk molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target dalam situs pengikatan tertentu.
Selain itu juga terdapat metode lain untuk mengembangkan suatu obat yaitu dengan bantuan komputer (Computer assited Drug Design = CADD)' terutama berhubungan dengan parameter kimia fisika yang terlibat dalam aktivitas obat,hubungan kuantitatif struktur-aktivitas dan model kimia kuantum atau perhitungan orbit molekul
Program komputer untuk rancangan obat rasional antara lain :
BIOCES : Biochemical Expert System, untuk model protein, rekayasa protein dan Kimia Medisinal2) CoMFA : Comparative Moleculer Field Analysis (SYBYL).3) EMIL : Example Mediated Innovation for Lead Evolution, untuk mencari evolusi atau rancangan analog.4) MMMS : untuk model molekul, rancangan obat dan perhitungan kimia kuantum.5) GREEN : untuk studi struktur reseptor6) RECEPT : untuk rasional superkomposisi molekul dan mapping reseptor7) MMS-X : untuk rancangan obat, mapping reseptor dan analisis konformasi
Program komputer untuk menghubungkan struktur molekul dengan aktivitas biologis antara lain :
ALS : Adaptive Least Square 2) LDA : Linear Discriminant Analysis3) SIMCA :Statistical Isolinear Multiple Compound Analysis4) LLM ;Linear Learning Machine5) SAS : Statitistical Analysis System6) HANSCH : metode Hansch,regresi linear.7) QSAR : analisis regresi dan de novo
Hai bg bian. Wahh. Terimakasih atas penjelasannya. Sangat bermanfaat 😊
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.
hai irmaa. terima kasih atas pemaparannya. sangat membantu sekali
Hapus1. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
Selain itu, perbedaannya adalah
1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4
hai aziz, terimakasih atas jawabannya. sangat membantu sekali
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
terimakasih atas jawabannya. sangat membantu sekali
HapusHay kakak,, artikelnya sangat bagus sekali, dan sangat mudah dipahami..terimakasih saya ingin bertanya apa kelebihan dari metode rapid?
BalasHapushai leksa. baiklah saya akan menjawab pertanyaan leksa. kelebihan dari RAPID itu sendiri adalah penggunaanya yang mudah, sederhana dan hanya memerlukan waktu yang singkat dalam proses pengerjaannya
HapusTerima kasih sudah menulis , artikel yg sangat menarik, dsni sya akan coba jwb pertanyaan no 3 ada 2 langkah pengembangan model farmakofor
BalasHapus1. pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
2. analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE)
terimakasih kembali bella, semoga artikelnya bermanfaat
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
hai rio, wahhh, terimakasih atas jawabannya sangat bermanfaat sekali
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.
Hay ovi saya mau bertanya nihh,bagaimana caranya mnntukan analog yg sesuai dg metode rapid?
BalasHapusSalah satunya kita harus mengetahui struktur obat tersebut atau farmakofornys secara tidak langsunh dengan mengetahui farmakofor dari suatu obat kita bisa menggunakan metode RAPID untuk menentukan analognya
HapusHai ovi
BalasHapusSaya akan coba menjawab no 3
Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusHaii ovi, pemaparan artikel yg sangat bermanfaat, kalau boleh bertanya menurut ovi itu bagaimana sih kegunaan RAPID dalam kehidupan sehari-hari? Toling di bantu jawab ya, terimaksih.,
BalasHapusMetode RAPID dalam kehidupan sehari salah satunya bisa digunakan untuk menemukan desain obat baru dari desain obat yang sudah ada sebelumnya dengan tujuan untuk mendapatkan efek samping yang minimum
Hapus
BalasHapusmengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada Banyak makromolekul yang diinginkan Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane bounde
Terimakasih kak lea atas pemaparannya 😊
Hapushay ovi, artikel anda menarik sekali
BalasHapussaya ingin bertanya, apakah mungkin bila obat yg khasiatnya sama maka farmakofornya berbeda?
Tidak. Seperti yang sudah saya jelaskan diartikel saya. Untuk obat yang khasiatnya sama maka struktur farmakofornya juga sama
HapusHai Ovi, pengembangan metode ini dapat dilakukan dengan cara
BalasHapus1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
BalasHapusMetode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusMantaapp peh 🙌
BalasHapusterimakasih :)
HapusHallo Ovi.
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan nomor 4.
Pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Terimakasih.
Menarik dan sangat bermanfaat
BalasHapusterimakasih :)
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusGk ngerti gw..tdi ada yg bagi digrup..
BalasHapusterimakasih atas kunjungannya diblog saya :)
Hapushai kak ovi, artikrl ny keren, tapi saya gak mengerti, jadi kapan bisa ajari saya langsung kak
BalasHapusTerimakasih wahyudi 😊
HapusBagus
BalasHapusHai ovi,
BalasHapusMenurut saya, pada metode fromakofor adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusAssalamualaikum. Pemaparan materinya baik sekali
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
Nice article vi, even tho i dont understand
BalasHapusterimakasih sudah berkunjung diblog saya :)
HapusHai Kak ovi pemaparannya sangat baik,
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Menurut saya, pada metode fromakofor adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
BalasHapusterimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusMudah diphami nih artikelnyaa, jadi bisa belajar lebih mudahh
BalasHapusOhiyaa, kelebihan metode rapid apaa ya?
Kelebihan metode rapid mudah dalam penggunaan, lebih sederhana dan proses pengerjaan yang cepat
Hapushay ovi saya akan mencoba menjawab soal nomor 3. langkah dalam mengembangkan farmakopor yaitu
BalasHapus1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusMenurut saya, adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
BalasHapusterimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.
terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)
HapusHai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
Selain itu, perbedaannya adalah
1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4
Terimakasih putri atas jawabannya. Sangat membantu sekali 😊
HapusPemaparannya sangat baik sekali ovi. Disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
BalasHapusLangkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.
Terimakasih putri atas jawabannya. Sangat membantu sekali 😊
HapusJawaban nomor 4
BalasHapusAdanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Terimakasih kak kurnia atas jawabannya. Sangat membantu sekali 😊
HapusHaii ovi., pemaparan materi yg mudah di pahamin, shga sy bsa menjawab tgs2 sy,
BalasHapusTerimaksih yaa
Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
BalasHapusBaiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.