Metode RAPID : Kimia Medisinal


FARMAKOFOR

Dalam suatu bidang farmasis, tentu saja tidak asing mendengar istilah obat. Obat-obatan seiring dengan perkembangan zaman perlu dikembangkan karena semakin banyak model penyakit-penyakit baru yang timbulnya. Sehingga perlu dilakukan modifikasi atau pengembangan dari obat yang lama. Salah satu metode yang dapat digunakan dan yang paling umum diketahui adalah melihat model farmakofor. Tujuan melihat farmakofor adalah adanya interaksi penting antara protein dan ligan.

Farmakofor adalah susunan tiga dimensi dari atom dalam molekul obat yang memungkinkan untuk berikatan dengan reseptor yang diinginkannya dan bertanggung jawab dengan respon biologis karena terikat dengan reseptor yang dikehendakinya.

“Jika ada senyawa-senyawa yang memiliki farmakofor yang sama, maka efek yang dihasilkan juga sama”.
 















Two dimensional of pharmacofors


Three dimensional pharmacofors





PENICILIN

Reseptor obat adalah suatu makromolekul jaringan sel hidup, mengandung gugus fungsional atau atom-atom terorganisasi, reaktif secara kimia dan bersifat spesifik, dapat berinteraksi secara reversibel dengan molekul obat yang mengandung gugus fungsional spesifik, menghasilkan respons biologis yang spesifik pula.

Ada beberapa ikatan yang mendasari identifikasi farmakofor, yaitu :
a.      Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen terbentuk bila ada dua atom saling menggunakan sepasang elektron secara bersama-sama. Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang paling kuat dengan rata-rata kekuatan ikatan 1000 kkal/mol. Dengan kekuatan ikatan yang tinggi ini, pada suhu normal ikatan bersifat ireversibel dan hanya dapat pecah bila ada pengaruh katalisator enzim tertentu. Interaksi obat-katalisator melalui ikatan kovalen menghasilkan kompleks yang cukup stabil dan sifat ini dapat digunakan untuk tujuan pengobatan tertentu.
b.      Ikatan ion
Ikatan ion adalah ikatan yag dihasilkan oleh daya tarik menarik elektrostatik antara ion-ion yang muatannya berlawanan. Kekuatan tarik-menarik akan makin berkurang bila jarak antar ion makin jauh dan pengurangan tersebut berbanding terbalik dengan jaraknya.
c.       Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen adalah suatu ikatan antara atom H yang mempunyai muatan positif parsial dengan atom lain yang bersifat elektronegatif dan mempunyai sepasang elektron bebas dengan oktet lengkap seperti O, N, F. Atom yang bermuatan positif parsial dapat berinteraksi dengan atom negatif parsial dari molekul atau atom lain yang berbeda ikatan kovalennya dalam satu molekul.
Contoh : H2O
d.       Ikatan Van Der Waal’s
Ikatan van der waal’s merupakan kekuatan tarik-menarik antar molekul atau atom yang tidak bermuatan dan letaknya berdekatan atau jaraknya ± 4-6 Å. Ikatan ini terjadi karena sifat kepolarisasian molekul atau atom. Meskipun secara individu lemah tetapi hasil penjumlahan ikatan van del waal’s merupakan faktor pengikat yang cukup bermakna terutama untuk senyawa-senyawa yang mempunyai berat molekul tinggi. Ikatan van der waal’s terlibat pada interaksi cincin benzen dengan daerah bidang datar reseptor dan pada interaksi rantai hidrokarbon dengan makromolekul protein atau reseptor.

Selain itu studi Farmakofor bisa digunakan untuk  virtual screening dan molecular docking senyawa piperazin terhadap reseptor Kemokine CCR5 sebagai agen anti-kanker prostat. Dimana derivatif senyawa piperazine dimodelkan secara 3D terhadap reseptor CCR5. Penelitian ini menggunakan metode penelusuran farmakofor, virtual screening dan molecular docking pada target reseptor kemokin CCR5 sebagai agen anti-kanker prostat. Penentuan fitur farmakofor dan docking molekul didapatkan berdasarkan Struktur reseptor CCR5 dan ligan aktif yang diperoleh dari Protein Data Bank (www.pdb.org), dengan kode (PDB ID: 4MBS) dan virtual screening terhadap 170.000 senyawa natural product yang didapatkan dari situs (http://zinc.docking.org) lalu ketiganya dimodelkan menggunakan perangkat lunak MOE 2009.10
          Bukti-bukti terbaru menunjukkan peran ganda reseptor kemokin CCR5 dalam mempromosikan pertumbuhan beberapa jenis kanker. Mekanisme promosi tersebut diyakini melibatkan peradangan kronis pada lingkungan mikro yang meningkatkan pertumbuhan tumor. Yakni dengan memblok fungsi reseptor CCR5 dengan senyawa antagonis sehingga dapat menghasilkan pengobatan baru pada penyakit kanker seperti kanker prostat. Dengan adanya penambahan atom nitrogen pada cincin piperazine dapat memungkinkan interaksi ligan dan reseptor dengan memperkuat situs pengikatan antara ligan dan reseptor, namun hasil ini masih perlu untuk dikuatkan dengan penelitian tahap lanjut menggunakan kombinasi analisis farmakofor dan studi docking.




A.   Penelusuran Farmakofor dan virtual screening

Penelusuran farmakofor

Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
(1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
(2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

Virtual screening

         Langkah yang umum digunakan pada virtual screening, adalah dengan mendownload terlebih dahulu beberapa ribu senyawa dari zinc12 databes. Senyawa-senyawa yang telah didownload kemudian disimpan sebagai database dengan format *mol2, lalu dijalankan metode Pharmacophore> Search dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10. Senyawa hits selanjutnya dilanjutkan pada studi Docking molekul.

Penelusuran Farmakofor
Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
Virtual Screening
         Terdapat beragam metode skrining virtual berbasis ligan. Berdasarkan tingkat kecanggihan, biaya komputasi utama, semua tergantung pada jenis informasi struktural yang digunakan. Pada semua kasus, umumnya diperoleh pengayaan signifikan pada pilihan acak dari molekul dalam database. Setelah prosedur pencarian, molekul dengan skor tertinggi dapat dipriotitaskan untuk pengujian eksperimental. Skrining virtual berbasis struktur dari molekul 3D telah berhasil diterapkan untuk menemukan hit baru dalam desain berbasis struktur.

Dengan menggunakan struktur protein dari 4MBS, selanjutnya dibuat query farmakofor dalam program MOE. Tujuan dari penyusunan query farmakofor adalah untuk menjelaskan struktur 3D senyawa turunan piperazine yang penting untuk pengikatan dengan reseptor dan menghasilkan farmakofor yang dapat digunakan untuk mengukur fitur struktur dari reseptor CCR5 yang penting untuk aktivitas biologis dengan melihat residu asam amino yang berperan pada pengikatan. Adapun query farmakofor yang berperan dalam interaksi ligan-reseptor memiliki fitur gugus amin tersier (F1:Acc), gugus donor dan akseptor proton (F2:don&Acc), gugus aromatik (F3:aro), gugus amida (F4:Acc) dan gugus hidrofobik (F5:Hyd.
Description: C:\Users\Win 8.1\moe\bin-i4w9\querybaru.png
 




Gambar 1. Query Farmakofor
Description: C:\Users\Win 8.1\moe\bin-i4w9\querypakemeter.png
 




Gambar 2. jarak fitur farmakofor

DAFTAR PUSTAKA
Abraham DJ, Burger’s Medicinal Chemistry and Drug Discovery. 6th ed. Volume 1.Willey Interscience: New York. 2003. h: 289

Arnatt, Christopher K. et al. Design, syntheses, and characterization of pharmacophore based chemokine receptor CCR5 antagonists as anti prostate cancer agents. 2013: h. 647-658, 2014. h: 2319-2323

Nursalam H.,Nur S,D., Fuada H. 2013. Studi Farmakofor, Virtual Screening dan Molecular Docking Senyawa Turunan Piperazine terhadap Reseptor Kemokine CCR5 Sebagai Agen Anti-Kanker Prostat. Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Yang., P., Liu H.-C., Chen Y.-D., Yuan H.-L., Sun S.-L., Gao Y.-P., Yang P., Zhang L., Lu T., and Lu S. 2011. Combined Pharmacophore Modeling, Docking, and 3DQSAR Studies of PLK1 Inhibitors, Int. J. Mol. Sci.12, 8713-8739.










Pertanyaan :

1.   Apa perbedaan dari 4 ikatan yang mendasari identifikasi farmakofor tersebut ?

2.   Apakah RAPID merupakan metode yang paling baik untuk pengembangan obat?

3.   Apa saja langkah dalam pengembangan model farmakofor ?

4.   Mengapa pendekatan farmakofor merupakan metode yang paling sering digunakan dalam desain obat yang baru ?




Komentar

  1. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
    A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
    B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
    Selain itu, perbedaannya adalah
    1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
    2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
    3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
    4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4

    BalasHapus
  2. Hai ovi.
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4

    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum. Terima kasih ovi, saya akan bantu jawab Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.


    BalasHapus
  4. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
    Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.

    BalasHapus
  5. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
  6. hay ovi saya akan mencoba menjawab soal nomor 3. langkah dalam mengembangkan farmakopor yaitu
    1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
    2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
    3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
    4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak

    BalasHapus
  7. hay ovi saya akan mencoba menjawab soal nomor 3. langkah dalam mengembangkan farmakopor yaitu
    1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
    2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
    3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
    4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak

    BalasHapus
  8. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
  9. Pemaparannya sangat baik sekali ovi. Disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
  10. Pemaparannya sangat baik sekali ovi. Disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
  11. Materi ini sangat menarik sekali. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 4 dimana alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
  12. Assalamualaikum hayy Ovi saya coba bantu jawab dan menambahkan pertanyaan nomor 2 yaaa
    Farmakofor termasuk dalam kategori baik dalam pengembangan obat hal ini di karenakan farmakofor atau pharmacophore adalah konfigurasi spasial fitur penting yang memugkinkan molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target tertentu. Dengan tidak adanya struktur reseptor dikenal, farmakofor dapat diidentifikasi dari suatu sel ligan yang telah diamati untuk berinteraksi dengan reseptor sasaran. Sebuah farmakofor didefinisikan sebagai susuanan 3D fitur yang sangat penting untuk molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target dalam situs pengikatan tertentu.
    Selain itu juga terdapat metode lain untuk mengembangkan suatu obat yaitu dengan bantuan komputer (Computer assited Drug Design = CADD)' terutama berhubungan dengan parameter kimia fisika yang terlibat dalam aktivitas obat,hubungan kuantitatif struktur-aktivitas dan model kimia kuantum atau perhitungan orbit molekul
    Program komputer untuk rancangan obat rasional antara lain :
    BIOCES : Biochemical Expert System, untuk model protein, rekayasa protein dan Kimia Medisinal2) CoMFA : Comparative Moleculer Field Analysis (SYBYL).3) EMIL : Example Mediated Innovation for Lead Evolution, untuk mencari evolusi atau rancangan analog.4) MMMS : untuk model molekul, rancangan obat dan perhitungan kimia kuantum.5) GREEN : untuk studi struktur reseptor6) RECEPT : untuk rasional superkomposisi molekul dan mapping reseptor7) MMS-X : untuk rancangan obat, mapping reseptor dan analisis konformasi
    Program komputer untuk menghubungkan struktur molekul dengan aktivitas biologis antara lain :
    ALS : Adaptive Least Square 2) LDA : Linear Discriminant Analysis3) SIMCA :Statistical Isolinear Multiple Compound Analysis4) LLM ;Linear Learning Machine5) SAS : Statitistical Analysis System6) HANSCH : metode Hansch,regresi linear.7) QSAR : analisis regresi dan de novo

    BalasHapus
  13. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
  14. Materi ini sangat menarik sekali. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 4 dimana alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
  15. Assalamualaikum ovi. Pemaparan materinya baik sekali
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
    Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.

    BalasHapus
  16. Pemaparan materinya baik sekali
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
    Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.

    BalasHapus
  17. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
  18. Assalamualaikum ovi.
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
    A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
    B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
    Selain itu, perbedaannya adalah
    1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
    2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
    3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
    4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas jawabannya. Sangat membantu 😊

      Hapus
  19. Assalamualaikum. Pemaparan materinya baik sekali
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas jawabannya. Sangat membantu 😊

      Hapus
  20. Assalamualaikum ovi. Pemaparannya baik sekali
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
    A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
    B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
    Selain itu, perbedaannya adalah
    1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
    2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
    3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
    4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas jawabannya. Sangat membantu 😊

      Hapus
  21. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
    A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
    B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
    Selain itu, perbedaannya adalah
    1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
    2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
    3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
    4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai tari. Wahh. Terima kasih atas jawabannya. Sangat bermanfaat 😂

      Hapus
  22. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
    A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
    B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
    Selain itu, perbedaannya adalah
    1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
    2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
    3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
    4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai kak hilda. Wahhh 😍 terimakasih atas jawabannya. Sangat bermanfaat sekali

      Hapus
  23. Assalamualaikum hayy Ovi saya coba bantu jawab dan menambahkan pertanyaan nomor 2 yaaa
    Farmakofor termasuk dalam kategori baik dalam pengembangan obat hal ini di karenakan farmakofor atau pharmacophore adalah konfigurasi spasial fitur penting yang memugkinkan molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target tertentu. Dengan tidak adanya struktur reseptor dikenal, farmakofor dapat diidentifikasi dari suatu sel ligan yang telah diamati untuk berinteraksi dengan reseptor sasaran. Sebuah farmakofor didefinisikan sebagai susuanan 3D fitur yang sangat penting untuk molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target dalam situs pengikatan tertentu.
    Selain itu juga terdapat metode lain untuk mengembangkan suatu obat yaitu dengan bantuan komputer (Computer assited Drug Design = CADD)' terutama berhubungan dengan parameter kimia fisika yang terlibat dalam aktivitas obat,hubungan kuantitatif struktur-aktivitas dan model kimia kuantum atau perhitungan orbit molekul
    Program komputer untuk rancangan obat rasional antara lain :
    BIOCES : Biochemical Expert System, untuk model protein, rekayasa protein dan Kimia Medisinal2) CoMFA : Comparative Moleculer Field Analysis (SYBYL).3) EMIL : Example Mediated Innovation for Lead Evolution, untuk mencari evolusi atau rancangan analog.4) MMMS : untuk model molekul, rancangan obat dan perhitungan kimia kuantum.5) GREEN : untuk studi struktur reseptor6) RECEPT : untuk rasional superkomposisi molekul dan mapping reseptor7) MMS-X : untuk rancangan obat, mapping reseptor dan analisis konformasi
    Program komputer untuk menghubungkan struktur molekul dengan aktivitas biologis antara lain :
    ALS : Adaptive Least Square 2) LDA : Linear Discriminant Analysis3) SIMCA :Statistical Isolinear Multiple Compound Analysis4) LLM ;Linear Learning Machine5) SAS : Statitistical Analysis System6) HANSCH : metode Hansch,regresi linear.7) QSAR : analisis regresi dan de novo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai bg bian. Wahh. Terimakasih atas penjelasannya. Sangat bermanfaat 😊

      Hapus
  24. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
    Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai irmaa. terima kasih atas pemaparannya. sangat membantu sekali

      Hapus
  25. 1. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
    A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
    B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
    Selain itu, perbedaannya adalah
    1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
    2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
    3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
    4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai aziz, terimakasih atas jawabannya. sangat membantu sekali

      Hapus
  26. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya. sangat membantu sekali

      Hapus
  27. Hay kakak,, artikelnya sangat bagus sekali, dan sangat mudah dipahami..terimakasih saya ingin bertanya apa kelebihan dari metode rapid?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai leksa. baiklah saya akan menjawab pertanyaan leksa. kelebihan dari RAPID itu sendiri adalah penggunaanya yang mudah, sederhana dan hanya memerlukan waktu yang singkat dalam proses pengerjaannya

      Hapus
  28. Terima kasih sudah menulis , artikel yg sangat menarik, dsni sya akan coba jwb pertanyaan no 3 ada 2 langkah pengembangan model farmakofor
    1. pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    2. analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kembali bella, semoga artikelnya bermanfaat

      Hapus
  29. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai rio, wahhh, terimakasih atas jawabannya sangat bermanfaat sekali

      Hapus
  30. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
    Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.

    BalasHapus
  31. Hay ovi saya mau bertanya nihh,bagaimana caranya mnntukan analog yg sesuai dg metode rapid?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satunya kita harus mengetahui struktur obat tersebut atau farmakofornys secara tidak langsunh dengan mengetahui farmakofor dari suatu obat kita bisa menggunakan metode RAPID untuk menentukan analognya

      Hapus
  32. Hai ovi
    Saya akan coba menjawab no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  33. Haii ovi, pemaparan artikel yg sangat bermanfaat, kalau boleh bertanya menurut ovi itu bagaimana sih kegunaan RAPID dalam kehidupan sehari-hari? Toling di bantu jawab ya, terimaksih.,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Metode RAPID dalam kehidupan sehari salah satunya bisa digunakan untuk menemukan desain obat baru dari desain obat yang sudah ada sebelumnya dengan tujuan untuk mendapatkan efek samping yang minimum

      Hapus


  34. mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada Banyak makromolekul yang diinginkan Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane bounde

    BalasHapus
  35. hay ovi, artikel anda menarik sekali
    saya ingin bertanya, apakah mungkin bila obat yg khasiatnya sama maka farmakofornya berbeda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak. Seperti yang sudah saya jelaskan diartikel saya. Untuk obat yang khasiatnya sama maka struktur farmakofornya juga sama

      Hapus
  36. Hai Ovi, pengembangan metode ini dapat dilakukan dengan cara
    1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
    2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
    3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
    4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  37. Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
    Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  38. Hallo Ovi.
    Saya akan menjawab pertanyaan nomor 4.
    Pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.
    Terimakasih.

    BalasHapus
  39. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  40. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  41. Gk ngerti gw..tdi ada yg bagi digrup..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas kunjungannya diblog saya :)

      Hapus
  42. hai kak ovi, artikrl ny keren, tapi saya gak mengerti, jadi kapan bisa ajari saya langsung kak

    BalasHapus
  43. Hai ovi,
    Menurut saya, pada metode fromakofor adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  44. Assalamualaikum. Pemaparan materinya baik sekali
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
  45. Nice article vi, even tho i dont understand

    BalasHapus
  46. Hai Kak ovi pemaparannya sangat baik,
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
  47. Menurut saya, pada metode fromakofor adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  48. Mudah diphami nih artikelnyaa, jadi bisa belajar lebih mudahh
    Ohiyaa, kelebihan metode rapid apaa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelebihan metode rapid mudah dalam penggunaan, lebih sederhana dan proses pengerjaan yang cepat

      Hapus
  49. hay ovi saya akan mencoba menjawab soal nomor 3. langkah dalam mengembangkan farmakopor yaitu
    1. pengumpulah ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada site targetnya
    2. analisa suatu konformasi dan mengembangjan farmakopor 3d secara komputasi
    3. kombinasi dari konformasi energi rendah dari molekul
    4.abtraksi yaitu mentranformasikan molekul yang dilapisi ke dalam representasi abtrak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  50. Menurut saya, adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  51. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 2
    Metode lain untuk pengembangan obat salah satunya yaitu QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship), dimana memadukan statistika (perhitungan) dengan sifat fisikokimia senyawa yang dapat dikalkulasi dengan bantuan komputer.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, sangat membantu sekali :)

      Hapus
  52. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 1
    A. ikatan kovalen, ikatan ion, ikatan hidrogen, ikatan van der waals
    B. Posisi relatif suatu molekul ~ Reseptor dan Konformasi aktif molekul
    Selain itu, perbedaannya adalah
    1. Ikatan ionik : Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer elektron dari atom Na ke atom Cl.
    2. Ikatan kovalen : Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen. Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk molekul Cl2.
    3. Ikatan hidrogen : adalah gaya tarik antar-molekul yang terjadi antara atom hidrogen yang terikat dengan atom sangat elektronegatif (N, O, atau F) dan pasangan elektron bebas dari atom sangat elektronegatif lainnya. Ikatan ini muncul sebagaimana ikatan N—H, O—H, dan F—H bersifat sangat polar, di mana muatan parsial positif pada H dan muatan parsial negatif pada atom elektronegatif (N, O, atau F). Sebagai contoh, ikatan hidrogen terdapat pada antar molekul H2O dan antar molekul NH3.
    4. Gaya Van Der Waals : terjadi akibat interaksi antara molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair atau padat dan sangat lemah. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya pada senyawa CH4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih putri atas jawabannya. Sangat membantu sekali 😊

      Hapus
  53. Pemaparannya sangat baik sekali ovi. Disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 3
    Langkah pada pengembangan model farmakofor adalah :
    (1) pemilihan sekumpulan ligan aktif yang diketahui untuk terikat pada target yang sama (daerah pengikatan yang sama)
    (2) analisis konformasi untuk mengembangkan farmakofor 3D yang umum dan Penentuan Query Pharmacophore dengan menggunakan Molecular Operating Environment (MOE) release 2009.10.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih putri atas jawabannya. Sangat membantu sekali 😊

      Hapus
  54. Jawaban nomor 4

    Adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kak kurnia atas jawabannya. Sangat membantu sekali 😊

      Hapus
  55. Haii ovi., pemaparan materi yg mudah di pahamin, shga sy bsa menjawab tgs2 sy,
    Terimaksih yaa

    BalasHapus
  56. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus
  57. Hai ovi. Pemaparannya sangat baik
    Baiklah, disini saya akan mencoba memberikan opini saya terhadap pertanyaan no 4
    Alasan lain mengapa pendekatan berbasis farmakofor sering digunakan pada desain obat adalah adanya struktur 3D yang hilang pada banyak makromolekul yang diinginkan. Banyak target obat sekarang ini merupakan membrane-bounde dan sejauh ini hanya beberapa protein membran yang berhasil dikristalisasi. Tidak adanya penentuan secara eksperimen struktur protein 3D, penggunaan pendekatan berdasarkan ligan tidak langsung, termasuk farmakofor, merupakan satu-satunya cara untuk mendesain molekul bioaktif yang baru secara rasional.

    BalasHapus

Posting Komentar